VIVAnews - Biofuel telah dikembangkan di banyak negara sebagai salah satu sumber energi untuk subsitusi energi fosil, seperti minyak bumi. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Brazil, Korea Selatan, India, dan Jepang telah melakukan penelitian yang intensif untuk mengembangkan energi baru terbarukan ini.
Biofuel di Amerika Serikat telah didukung oleh 26 negara bagian. Bahkan, empat negara bagian, yaitu Minnesota, Hawaii, Montana, dan Oregon telah menerapkan energi E-10 (bioetanol). Bahan baku yang mereka gunakan adalah jagung.
Sejak 1979, Amerika Serikat telah menerapkan insentif pajak terhadap pengguna biofuel. Saat ini sedang meningkatkan penggunaan biofuel untuk kendaraan, dan memberikan insentif pada SPBU.
Brazil telah mengembangkan bioetanol yang bersumber dari tebu dengan melakukan ujicoba pada kendaraan sejak 1925, dan dikembangkan dalam periode cukup lama dengan dukungan penuh dari pemerintah dalam bentuk regulasi dan insentif, dan saat ini pengembangan biofuel di Brazil telah menggunakan mekanisme pasar. Dari seluruh produksi tebu, 50 persen diantaranya digunakan untuk industri bioetanol, sedangkan sisanya untuk industri gula.
Korea Selatan telah mengembangkan biodiesel sejak 2002 dan diperkirakan konsumsinya meningkat 0,5 persen per tahun. Dalam mempromosikan biodiesel, pemerintah Korea pada 2007 telah memberikan tax exemption. Mereka menggunakan bahan baku kedelai (77,3 persen).
Pemerintah Jepang telah melakukan perhatian serius dalam bidang biofuel. Jepang melakukan standarisasi melalui penerapan E-10 dengan mengacu pada standar di negara Eropa.
Di India, telah terbentuk Menteri Energi Baru Terbarukan. Ini merupakan instansi pemerintah di India yang bertugas mengembangkan energi baru dan terbarukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi.
Kebutuhan energi ini dilakukan melalui peningkatan produksi dalam negeri sejalan dengan kebijakan diversifikasi energi. Rencananya, pada 2032 setidaknya 5-6 persen energi ini bisa mengkonversi batu bara dan minyak bumi.
Kebijakan biofuel di India dilakukan melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol. Mereka menggunakan jarak pagar, minyak jarak, minyak kapuk randu, singkong, dan gandum. Keseluruhan dikembangan terutama untuk pemenuhan kebutuhan energi sektor transportasi.
Serangkaian percobaan terhadap industri otomotif untuk penerapan E-5 dan telah dinyatakan layak, namun saat ini masih belum dapat ditingkatkan kearah yang lebih tinggi karena masih dianggap dapat mengganggu mesin kendaraan.
Komoditas jarak pagar untuk biodiesel masih dalam taraf pengembangan pada lembaga-lembaga penelitian, dengan sasaran pada pemanfaatan lahan kritis di luar pemanfaatan kawasan pertanian pangan.
Kebijakan pengembangan bioetanol diarahkan pada pemanfaatan singkong, sehingga tidak mengganggu penyediaan gula. Saat ini telah ditetapkan kebijakan E-5 dan secara bertahap dikembangkan ke E-10 pada 2012. (Sumber: Tim Koordinasi Energi Alternatif, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral)
hadi.suprapto@vivanews.com