VIVAnews - Pemain asing Persija Jakarta, Richard Caceres punya kesibukan baru di luar jadwal latihan. Pemain asal Paraguay itu kini rajin membolak-balik kamus Bahasa Spanyol-Indonesia.
Caceres terlihat duduk di atas meja sesaat sebelum acara pelepasan tim Persija di Balaikota, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis 8 Oktober 2009. Kepalanya menunduk dan memperhatikan buku yang ada di tangannya.
Buku bersampul merah itu merupakan kamus Spanyol-Indonesia. Kamus itu saat ini menjadi teman dekat yang menemani mantan pemain Sol de America itu ke mana-mana.
"Makan, minum, latihan saya bawa," ujar Caceres memperagakan sedikit kemampuannya berbahasa Indonesia kepada VIVAnews yang datang menghampirinya.
Caceres merupakan satu-satunya pemain asal Amerika Latin yang ada di Persija. Pemain berambut gondrong itu hanya bisa berkomunikasi dengan Bahasa Spanyol saja.
Celakanya, Persija tidak menyediakan jasa penerjemah bagi Caceres. Akibatnya, pemain berusia 26 tahun itu harus bekerja keras untuk segera bisa memahami Bahasa Indonesia.
"Ke mana-mana dia selalu bawa kamus. Kalau mau minta sesuatu dia lihat kamus dulu," kata salah seorang pegawai Persija.
Caceres merupakan satu dari empat pemain asing Persija. Caceres direkrut Macan Kemayoran untuk menambal lini tengah Macan Kemayoran yang terancam keropos usai ditinggal gelandang bertahan Ponaryo Astaman yang hijrah ke Sriwijaya FC.
Selain Caceres, Persija juga memiliki tiga pemain asing. Mereka adalah Abanda Herman (Kamerun), Baihakki Khaizan (Singapura) dan Mustafic Fahrudin (Singapura).
Abanda yang telah tiga musim bersama Persija sudah lancar berbahasa Indonesia. Sedangkan Baihakki yang baru bergabung tahun ini juga mampu berbahasa Melayu sehingga tidak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan pemain maupun ofisial Persija.
Mustafic juga bernasib sedikit lebih baik. Meski tidak bisa berbahasa Melayu seperti rekannya Baihakki, pemain naturalisasi Yugoslavia itu masih piawai berbahasa Inggris.